“Sepanjang tahun lalu, pemerintah lokal memang memperketat kuota distribusi sapi ke luar pulau. Tahun ini kita siap dengan 47 ribu ekor yang akan dikeluarkan, baik itu berupa daging sapi atau sapi hidup,” kata kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, I Putu Sumantra belum lama ini.
Sepanjang tahun lalu, kata Sumantra, Bali memang memperketat kuota pengeluaran sapi ke luar pulau untuk mempertahankan populasi hewan ternak tersebut, serta menghindari pemotongan betina besar-besaran. Pasalnya, sebelum 2014, Bali selalu mengeluarkan kuota sapi berlebih dari kuota awal yang ditetapkan akibat tingginya permintaan pasar.
Sebagai contoh, pemerintah lokal pernah mengalokasikan distribusi sapi bali ke luar pulau dalam setahun sebesar 61 ribu ekor. Namun, realisasinya mencapai 75 ribu ekor. Akibatnya, populasi sapi bali turun drastis dari 637 ribu ekor pada 2011 menjadi 478 ribu ekor pada 2013.
Pada 2015, kuota sapi Bali yang berkisar 47-50 ribu ekor tersebut akan didistribusikan dalam dua semester, yaitu 20 ribu ekor semester pertama dan sisanya di semester kedua. Semester kedua lebih tinggi mengingat bertepatan dengan sederetan Hari Raya dan Tahun Baru.
Bali memiliki daya tampung untuk populasi sapi hingga 700 ribu ekor. Demi mendukung swasembada sapi nasional, Bali akan terus meningkatkan populasi sapinya. Salah satu caranya dengan menggandeng masyarakat setempat mengembangkan pola pembibitan rakyat.
Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mengatakan salah satu program unggulan Bali Mandara adalah Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri). Pemerintah lokal memberdayakan masyarakat untuk mengelola sapi-sapi dalam naungan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). “Segala kesulitan akan kita bantu. Harapannya, simantri ini bisa mendongkrak kesejahteraan hidup petani,” katanya.
Sumber : http://www.livestockreview.
Christ Andre
Isi artikel cukup menarik.
BalasHapusdata yang disajikan berasal dari tahun 2014, sehingga dinilai cukup baru untuk berita skala global. Memang dalam Sistem pertanian terintegrasi, ternak memiliki peranan yang penting. Ini bahwa dengan menerapkan sistem Simantri, tidak hanya hasil pertanian yang meningkat tetapi juga dari sektor peternakan.
Pemerintah sebenarnya memegang peranan penting dalam penerapan Simantri secara global, karena pemerintah mampu membuat sistem yang akan diterapkan oleh masyarakat. Artikel diatas menerangkan bahwa pemerintah Bali memberdayaka masyarakat untuk mengelola sapi dan dibantu untuk mengatasi segala kesulitan yang dihadapi (Bali memiliki penduduk yang mayoritas Hindu yang menghormati sapi, sehingga hal ini dianggap perbuatan mulia bagi mereka). Akibat penerapan Simantri yang menjadi program unggulan Bali ini, populasi sapi meningkat hingga 20%. Jumlah ini cukup besar dan potensial, meskipun sayangnya Pemerintah Bali mengurangi kuota distribusi sapi ke luar sehingga stok daging nasional tak meningkat.
Harapannya, petani bisa semakin cerdik dalam menangani masalah pertanian seperti misalnya menerapkan program Simantri dalam sistem pertanian mereka. Dengan begitu, ketahanan pangan nasional semoga bisa terus mengalami peningkatan.
14/365116/PN/13683