Menjadi sangat naif apabila isu mengenai Sistem
Pertanian Terintegrasi (Simantri) atau Integrated
Farming System (IFS) gencar
didengung-dengungkan belakangan ini. Sebagai Negara agraris, Indonesia memiliki
sejarah dan perkembangan sistem pertanian yang cukup bagus dan beragam. Akan
tetapi, perlu diketahui bahwa sejak dahulu kala
Simantri tersebut sudah dilakukan oleh petani Indonesia dalam mengolah sektor
pertanian, dimana dari hulu hinga hilir mereka menggarapnya dengan semua stakeholder yang terkait. Oleh karena
itu, dapat dikatkan bahwa Simantri merupakan nyawa dari tubuh pertanian
Indonesia.
Menurut Departemen Pertanian Provinsi Bali (2010),
yang dimaksud dengan Simantri adalah
upaya terobosan dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian karena
merupakan pengembangan model percontohan dalam percepatan alih teknologi kepada
masyarakat perdesaan. Simantri mengintegrasikan kegiatan sektor pertanian
dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai
potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya
lokal yang ada. Kegiatan integrasi yang dilaksanakan juga berorientasi pada
usaha pertanian tanpa limbah (zero waste)
dan menghasilkan 4 F (food, feed,
fertilizer and fuel). Kegiatan utama
adalah mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan ternak, dimana limbah
tanaman diolah untuk pakan ternak dan cadangan pakan pada musim kemarau dan
limbah ternak (faeces, urine) diolah menjadi bio gas, bio urine, pupuk organik
dan bio pestisida.. Definisi
tersebut membawa pengetahuan bahwa setiap wilayah memiliki local wisdom (kearifan lokal) sebagai bekal terwujudnya Simantri. Perkembangan
Simantri ini ditekankan pada pemakaian teknologi-teknologi baru sebagai
penunjang efektifitas kerja untuk pencapaian zero waste, sehingga akan mudah tercapai cita-cita pertanian yang
berkelanjutan. Akan tetapi, dari pengertian itu ada satu aspek.yang dilupakan
dalam penerapan Simantri, yaitu aspek manusia.
Integrasi
usaha budidaya tanaman dan ternak, hanya menetapkan focus pada pengintegrasian
objeknya. Manusia sebagai pelaku dalam usahatani kurang diperhatikan bahwa
mereka juga perlu diintegrasikan. Integrasi yang dimaksud adalah integrasi
sosial dimana pelaku usaha tani dari suatu wilayah saling dihubungkan dengan
petani wilayah lain. Oleh karena itu, dapat dibentuk jaringan akar rumput (grassroot networking) masyarakat
usahatani. Harapan tersebut muncul akibat keadaan SDM sektor pertanian yang
terkesan berjalan sendiri-sendiri. Sebagai contoh, petani Jawa di daerah Demak
memiliki sistem tanam Surjan, apakah wilayah di luar Jawa atau pelosok
Indonesia yang memiliki masalah yang sama dengan daerah Demak mengetahui Sistem
ini?
Saat
subjek pertanian diintegrasikan dengan modal pencerdasan dan pendidikan, grassroot networking akan mudah
terbentuk, karena adanya kebutuhan untuk mengatasi permasalahan pertanian yang
sama pada wilayah masing-masing. Sehingga konsep local wisdom tidak hanya
memberi manfaat bagi wilayag tersebut, tetapi dapat dirasakan oleh wilayah yang
lain. Hal tersebut dapat memicu timbulnya inovasi-inovasi baru dalam rangka
mengentaskan permasalahan pertanian. Pengintegrasian subjek (manusia) dalam
pertanian perlu dijadikan top list dalam
membangkitkan Simantri, sehingga saat subjek sudah terintegrasi, objek akan
dengan mudah diintegrasikan dengan seksama. Akhirnya, Simantri yang
didengung-dengungkan memiliki kans besar untuk selalu eksis dalam sistem
pertanian di Indonesia,
Sumber:
Lila
Tri Agustin (14/367180/PN/13814)
Jariri Imam Alhafiedh (14/365113/PN/13680)
BalasHapus1.Nilai Penyuluhan
a. sumber teknologi atau ide : pengintegrasian subjek pertanian dalam sistem pertanian terintegrasi.
b. sasaran langsung : Petani
sasaran tidak langsung : Anggota PPL dan pemerintah
c. manfaat : Gagasan dalam artikel ini bermanfaat untuk menjelaskan bagaimana manusia sebgai subjek dalam sistem pertanian terintegrasi harus bisa difungsikan dengan sebaik mungkin agar hasil dari sistem ini dapat maksimal
d. nilai pendidikan : gagasan dalam artikel ini harus dikembangkan agar produktivitas pertanian dapat meningkat.
2. Nilai berita
a. Proximity : artiklel ini sangan berhubungan erat dengan pertanian di indonesia
b. Impotance : artikel ini berguna sebagai bahan pemikiran tentang pentingnya pemberdayaan subjek pertanian yaitu manusia untuk menggapai keberhasilan dalam sistem pertanian terintegrasi.
c. consequence : jika kebijakan tentang optimalisasi subyek pertanian dilakukan dengan sebaik mungkin akan dapat menimbulkan hasil yang positif pada sistem pertanian ini
d. devolepment : Keberhasilan dari sistem pertanian terintegrasi tidak bisa lepas dari pengaruh manusia sebagai subyek dari sistem pertanian tersebut. karena, dengan modal kecerdasan petani yang banyak memiliki pengetahuan tentang sistem pertanian terintegrasi akan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian.
e. conflict :Jika pada suatu daerah yang memiliki masalah pertanian yang sama dengan daerah lain, tetapi daerah tersebut dapat mengatasinya sedangkan daerah lainnya tidak bisa mengatasinya karena keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh petani di daerah tersebut.