Kamis, 17 September 2015

Integrasi Subjek Simantri



Menjadi sangat naif apabila isu mengenai Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) atau Integrated Farming System (IFS)  gencar didengung-dengungkan belakangan ini. Sebagai Negara agraris, Indonesia memiliki sejarah dan perkembangan sistem pertanian yang cukup bagus dan beragam. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa sejak dahulu kala Simantri tersebut sudah dilakukan oleh petani Indonesia dalam mengolah sektor pertanian, dimana dari hulu hinga hilir mereka menggarapnya dengan semua stakeholder yang terkait. Oleh karena itu, dapat dikatkan bahwa Simantri merupakan nyawa dari tubuh pertanian Indonesia.
Menurut Departemen Pertanian Provinsi Bali (2010), yang dimaksud dengan Simantri adalah upaya terobosan dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian karena merupakan pengembangan model percontohan dalam percepatan alih teknologi kepada masyarakat perdesaan. Simantri mengintegrasikan kegiatan sektor pertanian dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada. Kegiatan integrasi yang dilaksanakan juga berorientasi pada usaha pertanian tanpa limbah (zero waste) dan menghasilkan 4 F (food, feed, fertilizer and fuel). Kegiatan utama adalah mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan ternak, dimana limbah tanaman diolah untuk pakan ternak dan cadangan pakan pada musim kemarau dan limbah ternak (faeces, urine) diolah menjadi bio gas, bio urine, pupuk organik dan bio pestisida.. Definisi tersebut membawa pengetahuan bahwa setiap wilayah memiliki local wisdom (kearifan lokal) sebagai bekal terwujudnya Simantri. Perkembangan Simantri ini ditekankan pada pemakaian teknologi-teknologi baru sebagai penunjang efektifitas kerja untuk pencapaian zero waste, sehingga akan mudah tercapai cita-cita pertanian yang berkelanjutan. Akan tetapi, dari pengertian itu ada satu aspek.yang dilupakan dalam penerapan Simantri, yaitu aspek manusia.


Integrasi usaha budidaya tanaman dan ternak, hanya menetapkan focus pada pengintegrasian objeknya. Manusia sebagai pelaku dalam usahatani kurang diperhatikan bahwa mereka juga perlu diintegrasikan. Integrasi yang dimaksud adalah integrasi sosial dimana pelaku usaha tani dari suatu wilayah saling dihubungkan dengan petani wilayah lain. Oleh karena itu, dapat dibentuk jaringan akar rumput (grassroot networking) masyarakat usahatani. Harapan tersebut muncul akibat keadaan SDM sektor pertanian yang terkesan berjalan sendiri-sendiri. Sebagai contoh, petani Jawa di daerah Demak memiliki sistem tanam Surjan, apakah wilayah di luar Jawa atau pelosok Indonesia yang memiliki masalah yang sama dengan daerah Demak mengetahui Sistem ini?

Saat subjek pertanian diintegrasikan dengan modal pencerdasan dan pendidikan, grassroot networking akan mudah terbentuk, karena adanya kebutuhan untuk mengatasi permasalahan pertanian yang sama pada wilayah masing-masing. Sehingga konsep local wisdom tidak hanya memberi manfaat bagi wilayag tersebut, tetapi dapat dirasakan oleh wilayah yang lain. Hal tersebut dapat memicu timbulnya inovasi-inovasi baru dalam rangka mengentaskan permasalahan pertanian. Pengintegrasian subjek (manusia) dalam pertanian perlu dijadikan top list dalam membangkitkan Simantri, sehingga saat subjek sudah terintegrasi, objek akan dengan mudah diintegrasikan dengan seksama. Akhirnya, Simantri yang didengung-dengungkan memiliki kans besar untuk selalu eksis dalam sistem pertanian di Indonesia,

Sumber:



Lila Tri Agustin (14/367180/PN/13814)

1 komentar:

  1. Jariri Imam Alhafiedh (14/365113/PN/13680)

    1.Nilai Penyuluhan
    a. sumber teknologi atau ide : pengintegrasian subjek pertanian dalam sistem pertanian terintegrasi.
    b. sasaran langsung : Petani
    sasaran tidak langsung : Anggota PPL dan pemerintah
    c. manfaat : Gagasan dalam artikel ini bermanfaat untuk menjelaskan bagaimana manusia sebgai subjek dalam sistem pertanian terintegrasi harus bisa difungsikan dengan sebaik mungkin agar hasil dari sistem ini dapat maksimal
    d. nilai pendidikan : gagasan dalam artikel ini harus dikembangkan agar produktivitas pertanian dapat meningkat.

    2. Nilai berita
    a. Proximity : artiklel ini sangan berhubungan erat dengan pertanian di indonesia
    b. Impotance : artikel ini berguna sebagai bahan pemikiran tentang pentingnya pemberdayaan subjek pertanian yaitu manusia untuk menggapai keberhasilan dalam sistem pertanian terintegrasi.
    c. consequence : jika kebijakan tentang optimalisasi subyek pertanian dilakukan dengan sebaik mungkin akan dapat menimbulkan hasil yang positif pada sistem pertanian ini
    d. devolepment : Keberhasilan dari sistem pertanian terintegrasi tidak bisa lepas dari pengaruh manusia sebagai subyek dari sistem pertanian tersebut. karena, dengan modal kecerdasan petani yang banyak memiliki pengetahuan tentang sistem pertanian terintegrasi akan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian.
    e. conflict :Jika pada suatu daerah yang memiliki masalah pertanian yang sama dengan daerah lain, tetapi daerah tersebut dapat mengatasinya sedangkan daerah lainnya tidak bisa mengatasinya karena keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh petani di daerah tersebut.

    BalasHapus