Seiring dengan bertambahnya populasi manusia bertambah pula
kebutuhan manusia, tidak hanya sandang dan papan akan tetapi, pangan yang
terpenting untuk mensuplai energi kebutuhan tiap manusia di muka bumi. Tentu saja
hal ini menjadi tugas berat tidak hanya petani namun, ini menjadi tugas bersama-
sama bagaimana bisa mencukupi kebutuhan pangan 9 miliar orang di dunia, padahal
lahan pertanian mengalami alih fungsi, terjadinya pembangunan tempat tinggal
manusia, tercemar limbah indrustri manusia, penggunaan peptisida herbisida yang
berlebihan sehingga mengakibatkan lahan menyempit dan menjadi rusak serta
ekosistem menjadi terganggu.
Untuk memenuhi kebutuhan 9 miliar orang diperlukanlah sebuah sistem
pertanian yang tetap berkelanjutan dengan pengaplikasian teknologi tepat guna,
salah satunya yaitu memanfaatkan mikroba di bidang pertanian. Mendengar kata
mikroba tentu bagi masyarakat Indonesia sangat akrab dengan penyakit , padahal
mikroba tidak hanya memberikan dampak negatif tetapi positif salah satunya di
bidang pertanian ialah penggunaan Pupuk Hayati (Biofertilizer). Menurut Permentan No.2 tahun 2006, menggolongkan
pupuk hayati kedalam pembenah tanah, bukan pupuk organik. Pembenah tanah itu
sendiri bisa organik ataupun non organik. Pupuk hayati termasuk dalam pembenah
tanah yang terdiri dari organisme hidup atau organik.
Gambar : Akar tumbuh sehat dan lebat dengan pemakaian pupuk hayati
mikroba
Amerika salah satunya negara yang sedang mengembangkan teknologi pemanfaatan
mikrobia menggunakan pupuk hayati untuk meningkatkan produktivitas pertanian (Afiansyah,2014)
Sumber : http://news.okezone.com/play/2014/12/22/20/57986/bertani-dengan-mikroba
Teknologi yang di kembangkan Amerika untuk system pertanian yang
berkelanjutan dengan mengembangkan mikroba untuk meningkatkan produktivitas
memang sudah sangat maju, lalu di Indonesia sendiri pengembangan pupuk hayati
masih terhambat oleh beberapa kendala akan tetapi, pupuk hayati ini dapat
diterapkan dengan mudah di lahan pertanian baik sawah maupun perkebunan.
Gambar : Tanaman jagung yang diberi jamur pupuk hayati dengan tidak
diberi pupuk hayati
Menurut Saraswati dan Sumarno (2008), Manfaat dari Pupuk hayati
yang berasal dari teknologi mikroba ialah sebagai penyubur tanah , membantu
tanaman mendapatkan unsur hara dan meningkatkan efisiensi pemupukan , kesuburan
dan kesehatan tanah, selain itu pupuk hayati lebih ramah lingkungan
dibandingkan penggunaan pestisida yang berlebihan dan memberikan dampak yang
buruk bagi ekosistem dan memberikan efek yang berkepanjangan.
Berdasarkan uraian diatas tentu pengguan mikroba dibidang pertanian
sangatlah bermanfaat untuk pertanian dalam membangun system pertanian yang
berkelanjutan karena dapat membantu tanaman lebih cepat , tinggi dan tentunya
mendapatkan hasil yang maksimal. Diharapkan teknologi pemanfaatan mikroba dapat
dimanfaatkan tidak hanya petani tetapi bisa dilakukan oleh semua orang di
Indonesia dan serta merta mendukung Kedaulatan Pangan Nasional.
Sumber :
Arfiansyah.
2014. Bertani dengan Miroba. < http://news.okezone.com/play/2014/12/22/20/57986/bertani-dengan-mikroba
> > Diakses 16 September 2015.
Saraswati, R.
dan Sumarno. 2008. Pemanfaatan Mikroba Penyubur Tanah sebagai Komponen
Teknologi Pertanian. Iptek Tanaman Pangan (3) 1 : 41 - 58.
Cahaya Prautama
14/367237/PN/13829