Kamis, 17 September 2015

Pemanfaatan Mikroba untuk Meningkatan Produktivitas Pertanian



Seiring dengan bertambahnya populasi manusia bertambah pula kebutuhan manusia, tidak hanya sandang dan papan akan tetapi, pangan yang terpenting untuk mensuplai energi kebutuhan tiap manusia di muka bumi. Tentu saja hal ini menjadi tugas berat tidak hanya petani namun, ini menjadi tugas bersama- sama bagaimana bisa mencukupi kebutuhan pangan 9 miliar orang di dunia, padahal lahan pertanian mengalami alih fungsi, terjadinya pembangunan tempat tinggal manusia, tercemar limbah indrustri manusia, penggunaan peptisida herbisida yang berlebihan sehingga mengakibatkan lahan menyempit dan menjadi rusak serta ekosistem menjadi terganggu.

Untuk memenuhi kebutuhan 9 miliar orang diperlukanlah sebuah sistem pertanian yang tetap berkelanjutan dengan pengaplikasian teknologi tepat guna, salah satunya yaitu memanfaatkan mikroba di bidang pertanian. Mendengar kata mikroba tentu bagi masyarakat Indonesia sangat akrab dengan penyakit , padahal mikroba tidak hanya memberikan dampak negatif tetapi positif salah satunya di bidang pertanian ialah penggunaan Pupuk Hayati (Biofertilizer). Menurut  Permentan No.2 tahun 2006, menggolongkan pupuk hayati kedalam pembenah tanah, bukan pupuk organik. Pembenah tanah itu sendiri bisa organik ataupun non organik. Pupuk hayati termasuk dalam pembenah tanah yang terdiri dari organisme hidup atau organik.

Gambar : Akar tumbuh sehat dan lebat dengan pemakaian pupuk hayati mikroba

Amerika salah satunya negara yang sedang mengembangkan teknologi pemanfaatan mikrobia menggunakan pupuk hayati untuk meningkatkan produktivitas pertanian (Afiansyah,2014)


 Sumber : http://news.okezone.com/play/2014/12/22/20/57986/bertani-dengan-mikroba
Teknologi yang di kembangkan Amerika untuk system pertanian yang berkelanjutan dengan mengembangkan mikroba untuk meningkatkan produktivitas memang sudah sangat maju, lalu di Indonesia sendiri pengembangan pupuk hayati masih terhambat oleh beberapa kendala akan tetapi, pupuk hayati ini dapat diterapkan dengan mudah di lahan pertanian baik sawah maupun perkebunan.


Gambar : Tanaman jagung yang diberi jamur pupuk hayati dengan tidak diberi pupuk hayati

Menurut Saraswati dan Sumarno (2008), Manfaat dari Pupuk hayati yang berasal dari teknologi mikroba ialah sebagai penyubur tanah , membantu tanaman mendapatkan unsur hara dan meningkatkan efisiensi pemupukan , kesuburan dan kesehatan tanah, selain itu pupuk hayati lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pestisida yang berlebihan dan memberikan dampak yang buruk bagi ekosistem dan memberikan efek yang berkepanjangan.

Berdasarkan uraian diatas tentu pengguan mikroba dibidang pertanian sangatlah bermanfaat untuk pertanian dalam membangun system pertanian yang berkelanjutan karena dapat membantu tanaman lebih cepat , tinggi dan tentunya mendapatkan hasil yang maksimal. Diharapkan teknologi pemanfaatan mikroba dapat dimanfaatkan tidak hanya petani tetapi bisa dilakukan oleh semua orang di Indonesia dan serta merta mendukung Kedaulatan Pangan Nasional.

Sumber :
Arfiansyah. 2014. Bertani dengan Miroba. < http://news.okezone.com/play/2014/12/22/20/57986/bertani-dengan-mikroba > > Diakses 16 September 2015.

Saraswati, R. dan Sumarno. 2008. Pemanfaatan Mikroba Penyubur Tanah sebagai Komponen Teknologi Pertanian. Iptek Tanaman Pangan (3) 1 : 41 - 58.

Cahaya Prautama
14/367237/PN/13829